TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG TRADISI MARAPULAI BASUNTIANG DI DAERAH INDERAPURA PESISIR SELATAN

Authors

  • Novi Oktaviani Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
  • Ikhwan Ikhwan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
  • Zulfan Zulfan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

DOI:

https://doi.org/10.32832/yustisi.v13i1.22863

Abstract

Tradisi marapulai basuntiang merupakan bagian dari adat pernikahanMasyarakat Minangkabau yang menampilkan pengantin laki-laki mengenakan suntiang, hiasan kepala yang secara umum identik dengan perempuan. Hal ini menimbulkan perdebatan fiqih karena dianggap menyerupai lawan jenis (tasyabbuh), yang dilarang dalam ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hukum pemakaian suntiang oleh marapulai dalam perspektif hukum Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, serta kajian terhadap hadis,konsep ‘urf, niyyah, dan maqashid al-syari’ah, ditemukan bahwa praktik ini tidak termasuk dalam kategori  tasyabbuh  yang  diharamkan.  Pemakaian  suntiang  tidak dimaksudkan untuk menyerupai perempuan, melainkan sebagai simbol tanggung jawab dan penghormatan terhadap adat. Dengan demikian, tradisi ini dapat diterima dalam bingkai syariat selama tidak mengandung unsur niat menyerupai lawan jenis secara identitas.

Kata Kunci: marapulai, suntiang, tasyabbuh, hukum Islam, adat Minang

References

Annibras, N.R. (2017) “Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadist,”

TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 1(1), hal. 75–96. Tersedia pada: https://doi.org/10.52266/tadjid.v1i1.4.

Husni, N.I. dan Riza, Y. (2022) “Makna Filosofis Suntiang Sebagai Hiasan Kepala Tradisional Wanita Minangkabau,” Jurnal Studi Budaya Nusantara, 6(2), hal. 116–122.

Juwika, F. et al. (2025) “Penafsiran Ayat Tentang Berpakaian ( Berhias ) Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang , Indonesia,” 2.

Karya, B. et al. (2024) “Al wal.”

Khairunnisa, F. (2020) “Menjaga Kearifan Lokal Dengan Membudayakan Tradisi Basunting Bagi Marapulai Dalam Adat Perkawinan Di Kanagarian Inderapura Kecamatan Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan,” Jurnal Ilmu Budaya, 8(2), hal. 294–301. Tersedia pada: https://doi.org/10.34050/jib.v8i2.9940.

Ramli, M.A. dan Abdullah, A.B. (2014) “PEMAKAIAN KAEDAH FIQH TERHADAP ISU PENYERUPAAN ( AL-TASYABBUH ) DALAM KONTEKS MASYARAKAT MAJMUK DI MALAYSIA * Using the

Islamic Legal Maxim in Respect of the Imitation ( al-Tasyabbuh ) Issue among the Muslim Society in Malaysia,” 11(11), hal. 1–28.

Sosiologi, D. et al. (2024) “Penyebab pelaksanaan tradisi marapulai basuntiang semakin berkurang dilaksanakan.”

Tuti Susanti et al. (2024) “Tradisi Marapulai Basuntiang di Inderapura Pesisir Selatan,” Simpati, 2(3), hal. 185–199. Tersedia pada: https://doi.org/10.59024/simpati.v2i3.839.

Sumardi, A., Ikhwan, & Zulfan. (2025). TRANSFORMASI KETAHANAN RUMAH TANGGA MELALUI AJARAN MANGAJI KAGADANG (STUDI PEMIKIRAN SYEKH ALI IMRAN HASAN). LEXORIA (Jurnal Pluralisme Hukum Indonesia), 1(1), 118-131. https://doi.org/10.2025/fxt41423

Published

2026-02-09

How to Cite

Oktaviani, N., Ikhwan, I., & Zulfan, Z. (2026). TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG TRADISI MARAPULAI BASUNTIANG DI DAERAH INDERAPURA PESISIR SELATAN. YUSTISI, 13(1). https://doi.org/10.32832/yustisi.v13i1.22863

Issue

Section

Artikel