DAMPAK TREN MARRIAGE IS SCARY TERHADAP MINAT MENIKAH MUSLIMAH (STUDI KASUS PENGGEMAR K-POP)

Penulis

  • Attira Adibah STDI Imam Syafi'i, Hukum Keluarga Islam
  • Arif Husnul Khuluq

DOI:

https://doi.org/10.32832/yustisi.v13i1.21341

Abstrak

Penelitian ini mengkaji dampak tren "Marriage is Scary" di media sosial terhadap minat menikah di kalangan Muslimah penggemar K-pop di Indonesia, sebuah subkultur unik yang berada di persimpangan identitas keislaman dan budaya populer global. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka teori konstruksi sosial realitas, penelitian ini menganalisis bagaimana narasi digital membentuk persepsi terhadap institusi pernikahan. Hasil analisis tematik dari wawancara mendalam menunjukkan bahwa tren ini tidak menciptakan ketakutan baru, melainkan berfungsi sebagai katalisator yang memperkuat dan memvalidasi keraguan yang sudah ada sebelumnya. Faktor-faktor fundamental yang memicu kecemasan ini meliputi risiko memilih pasangan yang salah, ketidakpastian finansial, dan trauma masa lalu akibat konflik keluarga. Faktor unik yang ditemukan adalah adanya kekhawatiran terkait negosiasi identitas sebagai penggemar K-pop dengan calon pasangan. Disimpulkan bahwa para informan tidak menolak institusi pernikahan dalam perspektif Islam. Sebaliknya, mereka menunjukkan pemahaman matang dengan memprioritaskan kesiapan holistik—mencakup iman, mental, dan finansial—sebelum memasuki jenjang pernikahan, yang menyebabkan mereka cenderung menunda dan menurunkan prioritas untuk menikah.

This research examines the impact of the "Marriage is Scary" trend on social media on the interest in marriage among Muslim K-pop fans in Indonesia, a unique subculture at the intersection of Islamic identity and global popular culture. Using a qualitative approach with the theoretical framework of social construction of reality, this study analyses how digital narratives shape perceptions of the institution of marriage. Thematic analysis of in-depth interviews revealed that this trend does not create new fears, but rather serves as a catalyst that strengthens and validates pre-existing doubts. The fundamental factors that trigger this anxiety include the risk of choosing the wrong partner, financial uncertainty, and past trauma from family conflict. The unique factor found was the concern regarding identity negotiation as a K-pop fan with potential partners. It is concluded that the informants did not reject the institution of marriage from an Islamic perspective. Conversely, they demonstrate mature understanding by prioritising holistic readiness—encompassing faith, mental, and financial aspects—before entering marriage, which leads them to postpone and deprioritize getting married.

Referensi

Marriage is scary, Muslimah penggemar K-pop, Pernikahan.

Diterbitkan

2026-02-10

Cara Mengutip

Adibah, A., & Khuluq, A. H. (2026). DAMPAK TREN MARRIAGE IS SCARY TERHADAP MINAT MENIKAH MUSLIMAH (STUDI KASUS PENGGEMAR K-POP). YUSTISI, 13(1). https://doi.org/10.32832/yustisi.v13i1.21341

Terbitan

Bagian

Artikel